Catatan'Ku

Minggu, 03 Maret 2013

Pengajaran Akhlak Ala Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Ditulis Oleh Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin 
Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam adalah contoh panutan dalam setiap aspek kehidupan. Beliau Shallallahu’alaihiwassalam senantiasa memberikan contoh aplikatif sehingga mudah untuk di laksanakan setiap orang. Bagaimana beliau Shallallahu’alaihiwassalam berinteraksi dengan anak -anak, merintahkan meraka, bermain bersama dengan mereka, berlemah lembut pada mereka, tidak pernah marah, membentak apalagi memukul. Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam pun suka bercanda dengan anak – anak dan bermuamalah secara akrab. Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu ia berkata ” saya membantu Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam selama sepuluh tahun. Demi Allah , beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku. Tidak pernah beliau berkata, ‘ kenapa kamu melakukan demikian’ atau ‘ kenapa tidak engkau lakukan demikian” ( H.R Bukhari Muslim dan selain keduanya) Dalam Riwayat lain, dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha mengungkapkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam tak pernah memukul kepada istri maupun pembantu, beliau lakukan memukul hanya saat jihad ( berperang) di jalan Allah saja ( H.R Muslim) Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam riwayat Muslim di sebutkan , hadist dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu Anas bin Malik berpesan, ‘ satu hari beliau mengutuskan untuk satu keperluan. Saya menjawab, ‘ Demi Allah, aku tak akan pergi’. Tetapi dalam hatiku tetap akan pergi menjalankan perintah Nabi. Saya pun keluar melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah sudah berdiri di belakang dan memegang tengkelukku. Aku melihat ke arah beliau dan beliau tertawa. Kemudian Beliau bersabda, ‘ Hai Unais pergilah melaksanakan perintahku” . Aku pun menjawab, ” Ya aku akan pergi Wahai Rasulullah. Demi Allah aku menjadi pelayan beliau selama sembilan tahun, tidak pernah aku mendengar Beliau mengatakan sesuatu yang aku lakukan, ‘ kenapa engkau melakukan demikian’. Tidak juga sesuatu yang, tidak aku lakukan’kenapa engkau tidak lakukan demikian? itulah pribadai pendidik nan agung! wallallahu’alam
Read more >>

Bagaimana Daulah Islamiyah Tegak Pada Masa Kenabian

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Diawali dengan dakwah
Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam memulai dakwah beliau di Mekkah dan sedikit sekali yang beriman kepada beliau, kemudian makin bertambah jumlah mereka.
2. Pembentukan jama’ah
Setelah itu Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam mampu membentuk jama’ah di Mekkah dan mendidik jama’ah ini di atas tauhid yang terwujud dalam kalimat Laailaaha illallaah maknanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, karena sesembahan-sesembahan yang batil banyak sekali sedangkan sesembahan yang benar hanyalah Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Dan dalilnya adalah firman Allah’Ajawajalla:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Qs. Al-Hajj:62]
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam juga telah mengabarkan tetang satu jenis ibadah yang penting dari berbagai macam ibadah. Beliau bersabda:”Doa adalah ibadah” [HR At-Tirmidzi,dan ia berkata: hadits hasan shahih].
Sungguh Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam bersama jama’ah beliau telah memikul berbagai macam ujian dari kaum musyrikin di Mekkah dan beliau memerintahkan mereka untuk bersabar sampai datang kemenangan. 
3. Memperluas jama’ah
Setelah beliau membentuk jama’ah di Mekkah, beliau mulai mencari jama’ah yang lain di Madinah. Beliau menemui mereka pada musim haji, beliau mendakwahkan islam kepada mereka, membaiat mereka dengan baiat ‘Aqobah pertama dan kedua.
4. Mementingkan tauhid
Prioritas Rasulullah terhadap tauhid sangat nampak, ketika beliau mengutus Mu’adz ke Yaman beliau bersabda kepadanya:
“Maka jadikanlah awal yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah.” (Dan dalam satu riwayat: sampai mereka mentauhidkan Allah)  [Muttafaqun’alaih]
Maka siapa yang ingin menegakkan Daulah Islamiyyah wajib atasnya untuk memulai dengan aqidah tauhid karena mencontoh Rasulullah sang panglima Shalallahu’alaihiwassalam, dan siapa yang menyelisihi jalan ini, maka pasti akan gagal karena dia telah menyelisihi jalan nabawiyah dalam penegakan Daulah Islamiyah sehingga harus ditegakkan Daulah Islamiyyah dalam hati dan asanya adalah aqidah tauhid sampai daulah ini tegak di atas bumi.
Telah berkata seorang dai dari zaman ini:
“Tegakkanlah Daulah Islamiyah dalam hati-hati kalian, pasti akan ditegakkan Daulah Islamiyah untuk kalian diatas bumi kalian.”
Sehingga wajib atas kita untuk menerapkan pengajaran-pengajaran islam dan yang paling penting adalah tauhid pada diri-diri kita, keluarga kita dan jama’ah kita sampai diberi kemenangan.
Soal:
Sebagian orang mengatakan bahwa islam akan kembali dimulai dari pemerintahan. Sebagian yang lain mengatakan: Islam akan kembali dari jalan pembenahan aqidah dan pendidikan jama’ah. Maka mana yang benar?
Jawab:
Telah menjawab soal ini dai besar Muhammad Quthb dalam muhadhoroh (pengajian) yang dia sampaikan di Darul Hadits Al-Makkiyyah di Mekkah Al-Mukarromah. Dia berkata: Darimana datangnya pemerintahan agama ini di dunia kalau bukan dari  para dai yang membenahi akidah, yang mereka beriman dengan iman yang benar, yang diuji karena agama mereka kemudian mereka bersabar, yang mereka berjihad di jalan Allah sehingga agama Allah menjadi hukum di dunia. Perkara yang sangat jelas sekali, seorang hakim tidak datang dari langit, tidak turun dari langit bahkan segala sesuatu datang dari langit, akan tetapi dengan kesungguhan dari manusia yang telah Allah wajibkan atas manusia. Allah ‘Ajawajalla berfirman:
“Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.” [Qs.Muhammad: 62]
5. Masyarakat yang sholeh
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam telah menyiapkan lingkungan yang sholih di Madinah sebelum hijrah. Dan ketika beliau hijrah bersama beliau membentuk masyarakat muslim dari kalangan muhajirin (sahabat yang hijrah dari Mekkah ke Madinah) dan dari kalangan anshor (sahabat penolong yaitu penduduk Madinah) di atas asas-asas tauhid dan kasih sayang sehingga terbentuklah pemerintahan islamiyyah yang Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam menghukumi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kemudian setelah beliau, para khulafaur rasyidin mereka menempuh jalan beliau ini sehingga mereka dapat menaklukkan negara-negara dan menyampaikan agama ini kepada kita dengan sempurna. Sehingga pertolongan Allah senantiasa bersama mereka.
Read more >>

Surat Al-Ikhlas (Memurnikan Tauhid)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ () اللَّهُ الصَّمَدُ ()لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ()وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
1. Katakanlah;”Dialah Allah Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan tempat bergantung,
3. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia.”
Materi Surat
Surat ini berbicara tentang sifat-sifat Allah ‘Ajawajalla Yang Maha Esa, Maha mengumpulkan semua sifat Kesempurnaaan, Maha dibutuhkan untuk selamanya, Yang tidak butuh kepada selain-Nya, Suci dari sifat-sifat kekurangan, sejenis, dan serupa.
Surat ini membantah kaum nashara yang berpegang pada “trinitas” dan membantah kaum musyrikin yang menjadikan bagi Allah ‘Ajawajalla anak cucu. Maha Tinggi Allah ‘Ajawajalla dari apa yang mereka ucapkan.
Penamaan Surat
Surat ini diberi banyak nama, dan yang paling masyhur; surat Al-Ikhlas karena berbicara tentang pemurnian tauhid bagi Allah ‘Ajawajalla Yang Maha Suci dari segala kekurangan dan Yang tidak mempunyai seorangpun sekutu.
Korelasi Dengan Surat Sebelumnya
Surat Al-Kafirun mengandung pelepasan dari segala macam kekafiran dan kemusyrikan sedangkan surat ini untuk menetapkan Keesaan Allah ‘Ajawajalla Yang Maha Istimewa dengan sifat-sifat Kesempurnaan, Maha diharapkan untuk selamanya, Maha Suci dari sekutu dan serupa. Oleh karenanya, keduanya dipasangkan dalam bacaan dari banyak shalat, sepertidua rakaat fajar (sunnah sebelum  Shubuh), dua rakaat thawaf, sunnah sesudah Maghrib, Istikharah (minta petunjuk), serta shalat musafir.
Keutamaannya
Banyak hadits yang membicarakankeutamaan surat ini dan bahwa dia membandingkan sepertiga bacaan Al-Quran. Imam Muslim dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasul Shalallahu’alaihiwassalam bersabda: ‘Berkumpullah…!! Karena saya hendak membacakan pada kalian sepertiga Al-Quran’. Lalu berkumpullah siapa yang ikut berkumpul, kemudian Rasul Shalallahu’alaihiwassalam keluar (dari rumah Beliau Shalallahu’alaihiwassalam yang bersambung dengan masjid) dan membaca qul huwallahu ahad.., dan masuk kembali. Maka sebagian kami berkata kepada sebagian yang lain: ‘Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam tadi bersabda bahwa “Saya akan bacakan pada kalian sepertiga Al-Quran..”, menurut saya nanti sore akan diteruskan, lalu Nabi Shalallahu’alaihiwassalam keluar lagi dan bersabda:’ Sesungguhnya saya telah bersabda kepada  kalian akan membacakan pada kalian sepertiga Al-Quran.
‘Ketahuilah Al-Ikhlas itu membandingi sepertiga Al-Quran!!.”
Sebab Turunnya
Imam Ahmad, At-Tirmidzy, dan Ibnu Jarir mengeluarkan sebuah hadits dari Ubay bin Ka’ab bahwa kaum musyrikun berkata kepada Nabi Shalallahu’alaihiwassalam: “Wahai Muhammad jelaskan pada kami asal usul Rabbmu!!”, Maka Allah ‘Ajawajalla menurunkan surat Al-Ikhlas.
Kosa Kata
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
(Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa):
Katakanlah wahai Muhammad terhadap orang yang menanyakan padamu tentang Rabbmu: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
اللَّهُ الصَّمَدُ
(Allah Rabb tempat bergantung): Allah ‘Ajawajalla yang seharusnya segala ibadah hanya diperuntukkan bagi-Nya.
 الصَّمَدُ
(Allah tempat bergantung): Rabb yang menjadi tempat bergantung untuk selamanya dan menunaikan hajat.
لَمْ يَلِدْ
(Dia tidak beranak): Tidak hilang binasa, sebab tidak ada sesuatu yang beranak kecuali ia pasti hilang binasa.
وَلَمْ يُولَدْ
(Dan tidak pula diperanakkan): Bukan sesuatu yang baru yang tadinya tidak ada lalu ada. Dia ada pertama dan selamanya.
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
(Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia): Tidak ada seorangpun yang serupa atau sama dengan-Nya,
(tidak ada yang semisal dengan-Nya)
Makna Secara Global
قُلْ
(Katakanlah): Perkataan yang mantap, yakin, dan mengetahui benar maknanya.
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
(Dialah Allah Yang Maha Esa) artinya: Terkhususkan keesaan untuk-Nya. Dialah Allah Yang Maha Esa, Yang sendiri mempunyai Kesempurnaan, Yang memiliki nama-nama yang indah, sifat-sifat sempurna nan tinggi, dan perbuatan yang suci, yang tidak ada keserupaan dan permisalan bagi-Nya.
اللَّهُ الصَّمَدُ
(Allah adalah Rabb tempat bergantung) artinya: Yang dituju dalam semua hajat. Para penghuni alam tinggi (malaikat) dan alam bawah (manusia) sangat bergantung kepada-Nya, memohon kebutuhan dan mengharap dalam segala kepentingan kepada-Nya, karena Dia Maha Sempurna dalam semua sifat-sifat-Nya. Al-Alim: Yang Sempurna Ilmu-Nya, Al-Halim: Yang Sempurna santun-Nya, Ar-Rahim: Yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, dan semua sifat-sifat Allah ‘Ajawajalla Yang Maha Sempurna.
Diantara kemuliaan-Nya,
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
(Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan) karena kesempurnaan ketidak-butuhan-Nya pada yang lain.
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
(Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia), tidak dalam nama-Nya, sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Jadi ,surat ini mengandung tauhidasma’ dan sifat.
Faedah Surat
1. Ma’rifah pada Allah ‘Ajawajalla dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.
2. Penetapan tauhid dan nubuwwah
3. Batilnya menisbatkan anak pada Allah ‘Ajawajalla
4. Kewajiban ibadah hanya kepada Allah ‘Ajawajalla tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penyembahan, karena Dia adalah Allah ‘Ajawajalla Pemilik urusan Ketuhanan dan kehambaan, tidak selain Dia.
(diambil dari buku Ad-Durusil Muhimmah li Ammatil Ummah, Cahaya Tauhhid Pres)
Read more >>